Dinasty Kafilah Cinta Warriors

Berjuang Menjadi Umat Yang Terbaik dalam Mencapai Cita-cita Rahmatan Lil Alameen

Latest topics
» Kembali kepada Kalimat yang Sama
Sat Aug 18, 2012 2:37 am by photrot1

» buy facebook page likes dj
Thu Aug 04, 2011 10:35 pm by Tamu

» programy na nokie 5230
Thu Aug 04, 2011 9:36 pm by Tamu

» Dating viareggio italy. Dating haledon.
Thu Aug 04, 2011 4:35 pm by Tamu

» fish oil to reduce cholesterol
Thu Aug 04, 2011 9:37 am by Tamu

» Hobson Medicine Hat
Thu Aug 04, 2011 7:59 am by Tamu

» Прикольные форумы
Wed Aug 03, 2011 8:21 pm by Tamu

» pandemic
Wed Aug 03, 2011 8:04 pm by Tamu

» Medicine Hat Sturgeon Fishing
Wed Aug 03, 2011 7:49 pm by Tamu

» tramal iv
Wed Aug 03, 2011 3:47 pm by Tamu

» Dude, so much AD here, why not clean them all?
Wed Aug 03, 2011 2:26 pm by Tamu

» Sleep Problems Linked To Truck Drivers' Performance Behind The Wheel
Wed Aug 03, 2011 9:06 am by Tamu

» free.fets
Tue Aug 02, 2011 9:19 pm by Tamu

» benefits of salmon fish
Tue Aug 02, 2011 5:06 pm by Tamu

» playing slots break da flash
Tue Aug 02, 2011 3:48 pm by Tamu

» Adhd Medications Without Rx
Tue Aug 02, 2011 2:03 pm by Tamu

» Insurance
Tue Aug 02, 2011 10:49 am by Tamu

» Practically as chintzy as warez
Tue Aug 02, 2011 9:23 am by Tamu

» Прикольные форумы
Mon Aug 01, 2011 11:34 am by Tamu

» гинекология месячные
Mon Aug 01, 2011 8:10 am by Tamu

Login

Lupa password?



Pencarian
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search


You are not connected. Please login or register

Kita Belum Mendudukkan Islam di Kekuasaan

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down  Message [Halaman 1 dari 1]

1 Kita Belum Mendudukkan Islam di Kekuasaan on Fri Sep 26, 2008 4:51 am

HTI-Press. Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya Ringtone lagu La Izzata Illa Bil Islam yang dinyanyikan oleh grup nasyid Shoutul Khilafa dari Banten akan terdengar ketika kita menelepon Ketua Hizbut Tahrir (HTI) Riau ini. Lagu yang terdengar penuh semangat dan spirit itu intinya menerangkan tiga hal. Yakni tiada kemuliaan kecuali dengan Islam, tiada Islam tanpa tegaknya syariat dan tidak tegak syariat tanpa khilafah. Rasanya, meski Riau Pos belum bertemu muka, sudah tergambarlah bagaimana kira-kira sosok pria yang sudah memimpin HTI Riau selama kurang lebih lima tahun ini.

‘’Maaf jadi agak lama menunggu. Biasanya kalau ada janji saya selalu berusaha datang di awal waktu. Hari ini anak saya sakit, jadi sebenarnya tidak masuk sekolah. Tapi ternyata dia menangis minta antar juga ke sekolah,’’ ujar Muhammadun membuka pembicaraan.

Tak lama kemudian, perbincangan pun mengalir di sebuah ruangan di Future Islamic School di Jalan Tuanku Tambusai Ujung di mana Muhammadun duduk sebagai salah satu pembina/penasehat, Senin (25/Cool pagi. Di tengah perbincangan, datang pula Ketua HTI Pekanbaru M Ihsan yang membuat pertemuan jadi tambah bersinergi.

‘’Syukur alhamdulillah sekarang anggota HTI telah menyebar di semua kabupaten/kota di Riau. Bahkan di dunia sudah ada di sedikitnya 40 negara. Sebagai media komunikasi dengan umat, kami menerbitkan tabloid Al Islam dengan tiras 10 ribu eksemplar tiap bulan. Bahkan untuk daerah seperti Bengkalis, Batam dan Tanjung Pinang, mereka telah mampu mencetak sendiri dan isinya tetap sama. Selain itu juga ada majalah Al-Wai’e. Bahkan masyarakat yang ada di daerah terpencil seperti di Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT), Sei Lala dan Batang Gangsal ada yang juga minta diberi bimbingan agama oleh kita. HTI tidak mau jadi eksklusif. Karena bagaimanapun ada juga warga organisasi Islam lainnya yang ternyata juga aktif di HTI,’’ ujarnya.

Menurut pria kelahiran Jombang, 3 Juli 1971 ini, HTI sebenarnya adalah wadah perjuangan dengan fokus pembinaan umat. Di dunia, sebenarnya HTI adalah nama partai politik internasional. Hanya di Indonesia HTI lebih sering dianggap organisasi massa (ormas). Karena itu HTI lebih menitikberatkan pada edukasi (pendidikan) umat sehingga rakyat jadi tahu hak-haknya.

Karena HTI adalah organisasi Islam, tentu juga menyokong bagaimana tegaknya aturan Islam. Wujud pembinaan umat ini bisa berupa program intensif seperti halaqah (pengajian) di mana satu orang membimbing lima orang. Atau membangun opini publik dengan menjadi narasumber di media massa (radio, televisi, surat kabar) serta pembinaan umat di masjid-masjid, meski itu tidak selalu membawa-bawa nama HTI.

Lalu biayanya dari mana? ‘’Semua dari kantong pribadi. HTI tidak ada menerima bantuan dari perusahaan tertentu maupun pemerintah. Ini kita lakukan disamping supaya kita bisa tetap independen, umat pun juga jadi mau berkorban untuk membantu perjuangan. Mulai dari kegiatan-kegiatan seperti pawai, seminar, membantu korban banjir dan lain-lain semua dari kantong pribadi masing-masing. Ternyata, setelah dilalui, makin banyak pengorbanan, rasa memiliki pun makin tinggi,’’ ungkap suami Ismiarni Moesa ini.

Syukur alhamdulillah, lanjut ayah dua anak ini, respon masyarakat Riau terhadap kehadiran HTI sungguh luar biasa. Meski belum bisa diukur dalam persen, tak hanya Majelis Ulama Indonesia (MUI), ormas-ormas lain bahkan yang menganut paham sekuler sekalipun menyambut baik eksistensi HTI. Karena itu, HTI juga memberi penguatan pada pihak militer bahwa HTI komit untuk menjaga kesatuan wilayah. ‘’Kadang-kadang kalau sedang berdakwah ke daerah ternyata kini juga dikenal masyarakat. Ketika ditanya tahu kita dari mana, ternyata dari media massa. Alhamdulillah kurang lebih sepuluh tahun HTI di Riau, belum ada respon negatif,’’ tuturnya.

Karena itu, ungkap Muhammadun, HTI mengajak umat tidak hanya melaksanakan Islam sebagai ritual, tapi juga mengaliri setiap lini kehidupan umat seperti sosial, politik ekonomi dan sebagainya. Karena itu HTI gencar menyokong pemerintah untuk menyelidiki kasus NAMRU 2, ajaran sesat Ahmadiyah dll. Karena beberapa undang-undang (UU) di Indonesia kini disinyalir ada intervensi asing. Mulai dari UU tentang air, listrik, hingga masalah pornografi dan pornoaksi.

Dikatakannya, meski kini umat Islam jadi terkotak-kotak dengan adanya perbedaan penetapan awal dan akhir Ramadan, HTI berprinsip tetap memakai dalil yang terkuat. Karena itu HTI selalu menentukan awal dan akhir Ramadan berdasarkan ru’yat, karena hisab sifatnya hanya membantu. ‘’Karena bagaimanapun bumi ini tetap satu. Kenapa kalau ru’yat di Aceh, Papua juga ikut padahal secara geografis sangat berjauhan? Sementara mengapa ru’yat di Pakistan tapi Aceh tidak ikut padahal jaraknya lebih dekat? Karena itu sebaiknya dalam ritual harusnya kita tidak dibatasi teritorial. Bagaimanapun ini untuk kesatuan umat Islam di dunia. Kan sudah ada hadistnya, puasalah kamu jika sudah melihat bulan,’’ tuturnya.

Demikian juga dengan salat hari raya Idul Adha. ‘’Tahun lalu (1428 H) HTI menyelenggarakan salat berdasarkan wukuf di Mekkah. Kita maunya ini sama. Karena itu kalau semua sama (salat Ied dan salat hari raya Idul Adha), HTI tidak akan pakai acara sendiri. Tapi kalau ternyata memang beda, ya terpaksa kita mengadakan sendiri. Kalau kemudian yang menganggap salah (perbedaan salat Ied dan salat Idul Adha, red), sehingga yang harus menanggung dosa umat adalah si pengambil kebijakan, ya tidak bisa langsung begitu. Karena bagaimanapun setiap manusia akan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Karena itu kita harap awal puasa dan hari raya tahun ini sama,’’ kata pria yang menyelesaikan S2-nya di Unri ini.

‘’Kami bersyukur, sejumlah pihak terkait tetap welcome. Kadang kalau mau ada acara, kita tinggal SMS, pihak kepolisian langsung oke. Mungkin karena mereka percaya kita tidak akan anarkis. Kita kan hanya ingin menyadarkan publik dengan cara yang simpatik. Bukan sekadar tampil beda, bukan atas dasar emosional. Karena sekarang, perbedaan di antara umat Islam sudah banyak yang ditarik ke arah politik, padahal pada dasarnya umat Islam itu ya satu, jangan dipolitisir,’’ bebernya.

Menurut lulusan S1 IPB ini, masalah terbesar umat Islam saat ini adalah karena mereka meninggalkan agamanya. Padahal, Islam itu lebih tinggi dibanding yang lain dan itu sudah pasti. Karena umat Islam itu umat pilihan, jadi saksi atas segala umat. Sejarah membuktikan, selama 13 abad umat di dunia hidup sejahtera di bawah naungan Islam. Di Spanyol, Islam, Kristen dan Yahudi bisa hidup damai. Lalu ketika Yahudi dikejar-kejar oleh Katolik, ke mana mereka pergi? Mereka justru minta perlindungan ke Turki. Orang di luar Islam juga akan ikut sejahtera di bawah payung Islam. Karena Islam itu tidak zalim dan sangat menghargai perbedaan. Kalau syariat Islam tegak, umat juga pasti akan sejahtera. Jadi Islam jangan hanya jadi hegemoni, sekadar gagah-gagahan.

‘’Orang di luar Islam bebas memakmurkan agamanya. Tapi, syariat Islam itu juga berlaku untuk orang non Islam. Misalnya kalau mau makan babi ya silakan, tapi jangan jual babi di perkampungan muslim. Inilah yang terbaik untuk orang Islam dan yang di luar Islam. Karena itu, penegakkan syariat Islam harus komprehensif. Saya dengar cerita di Kelantan, Malaysia, para pedagang Budha di sana justru bersyukur tegaknya syariat Islam. Dengan demikian mereka aman meninggalkan kedai tanpa rasa was-was akan dicuri. Begitu juga di Bulukumba Sulawesi,’’ ujar pria yang tengah menanti kelahiran anak ketiganya ini. Jadi, jelas Muhammadun, jika ada pandangan kalau Islam itu identik dengan pemberontakan, itu tidak benar. Sebenarnya, Islam itu tidak menakutkan. ‘’Karena itu kita menentang aksi kekerasan karena dengan hal itu tidak akan tercapai tujuan. Sebab itu caranya lewat dakwah,’’ katanya. Di Riau sendiri yang masyarakatnya Melayu yang sebenarnya identik dengan Islam, tapi Islam masih belum mampu menyentuh seluruh komponen masyarakat. Umat Islam masih belum menyatu dengan Islam itu sendiri. Karena jika ini terjadi, maka akan terbentuk pribadi yang taqwa, keluarga yang sakinah dan negara yang rahmatan lil alamin. Karena itu, Islam di Melayu jangan hanya sebatas simbol.

‘’Sekarang Islam direduksi hanya untuk masalah ritual. Tidak secara kaffah (menyeluruh). Akibatnya, hutan banyak ditebang, emisi karbon kian tinggi, eksploitasi batu-bara, hingga individu yang makin pornoaksi. Rahmat hanya akan terwujud kalau Islam ditegakkan, karena itulah sentralnya. Makanya HTI mendukung tegaknya khilafah islamiyah. Kalau semua diatur dengan cara Islam, kepentingan publik seperti pendidikan dan kesehatan akan dibiayai oleh pengolahan sumber daya alam (SDA) sehingga jadi lebih murah atau bahkan gratis,’’ ungkapnya.

Karena itu, lanjut Muhammadun, kita semua harus mendorong pemerintah yang bertanggung jawab. Misalnya sekarang, anggaran pendidikan naik jadi 20 persen. Dana sebesar itu jangan hanya semua untuk bangun sekolah. Lalu kemudian sisanya banyak untuk seminar-seminar yang tak berguna. Tapi bagaimana juga bisa dipakai untuk subsidi.

Dalam ekonomi Islam dikenal zakat. Menurut standar Bank Dunia, orang dengan pendapatan di bawah dua dolar per hari berarti miskin. Jika ini dipakai, berarti ada 120 juta orang miskin di Indonesia. Sementara PDRB Rp3.600 triliun per tahun. Jika ini dikeluarkan zakatnya 2,5 persen berarti baru Rp90 triliun. Ini baru kira-kira Rp1 juta per tahun per orang. Karena itu masalah kemiskinan tidak cukup diselesaikan hanya dengan zakat. Sebab itu, yang paling penting, harus dikembalikan kepemilikan SDA untuk kepentingan umat dan pengembangan harta. Sehingga apa yang sebenarnya milik publik sekarang justru jadi milik pribadi. SDA jadi rusak karena kepemilikan yang salah. Salah satu buktinya, masih ada triliunan rupiah dana reboisasi yang belum dibayar ke negara. Islam itu kaffah, tidak hanya simbol. Tapi bagaimana syariat Islam itu dipakai ketika memproduksi Perda-perda untuk kebaikan semua dan bisa diterima akal.

Meski kebangkitan kejayaan Islam itu ditakuti, ungkapnya, tapi nyatanya 52 persen masyarakat justru ingin ditegakkannya syariat Islam. Cuma yang sebenarnya setuju ini masih lebih banyak diam. ‘’Tapi HTI tidak mau diam baik lisan maupun tulisan. Karena kebangkitan kejayaan Islam itu sudah sesuai dengan Alquran dan janji Allah. Cuma berhasil atau tidaknya usaha manusia tentu bergantung Allah. Kapan kita diberi kemenangan? Kalau belum berarti kita masih belum pantas,’’ ungkapnya.

Bagaimana posisi tawar parpol Islam dalam menegakkan syariat Islam? ‘’Kalau bargaining power sekadar mendudukkan orang iya. Tapi belum bisa sampai ke tahap mendudukkan Islam di kekuasaan. Karena itu kalau sudah duduk, Islam jangan ditinggalkan di luar. Buktinya, mana baru selama ini produk Perda yang sesuai syariat Islam? Bahkan yang lebih memalukan, baik akhlak maupun perilaku mereka sendiri jauh dari Islam. Karena itu harus dipikirkan, setelah menang lalu kemudian buat apa? Mengapa tidak mencontoh Rasulullah. Akibatnya jangan disalahkan jika kemudian umat jadi pesimis. Golput itu ada yang atas dasar konsekuensi logis ada yang atas dasar kesadaran. Tapi kami di HTI tidak dianjurkan golput,’’ ujarnya.

Sebagai wadah perjuangan yang cukup militan, HTI komit untuk membangun poros Islam. Dan karena tidak ikut pemilu, HTI justru akhirnya lebih leluasa bergaul dengan partai lainnya karena tidak ada kepentingan di panggung politik. ‘’Karena bagaimanapun, meski partai sekuler, tapi kan yang duduk di situ orang Islam juga. Jadi kita komit sebagai perekat. Bahkan di Bandung kita pernah diundang oleh Partai Damai Sejahtera (PDS) untuk tahu bagaimana sebenarnya hukum Islam. Kita juga memberi alternatif untuk mengatasi problem sekarang. Ini supaya idealisme Islam tetap terjaga. Tapi orientasi kita tetap khilafah islamiyah, bagaimana bersatunya umat Islam sedunia,’’ tuturnya.

Lebih lanjut dipaparkan Muhammadun, kini menurut data FAO, tiap empat detik, satu orang mati kelaparan yang dibuat oleh sistem. Menurut data WHO, 2,7 juta orang susah dapat air bersih. Belum lagi masalah global warming (pemanasan global) yang sebenarnya justru dipicu oleh maraknya industri di AS dan Eropa. ‘’Karena itu Islam menawarkan penyelamatan umat. HTI itu gerakan ide. Bagaimanapun pasti ada berbenturan dengan kelompok sekuler, sosialis atau liberal. Tapi kita bongkar kebobrokan itu lewat buku dan media massa. Jadi obatnya itu Islam. Apalagi jika sudah diterapkan sebagai sistem pemerintahan,’’ bebernya.

Makin maraknya kristenisasi di Indonesia, menurut Muhammadun selain karena dampak imperialisme, solusi yang diberikan juga harus global. ‘’Kalau umat sudah jauh dari Islam, maka ia akan mudah dipengaruhi. Karena itu harus ada yang menjaga umat Islam. Bukan hanya sekadar ada orang Islam di situ, tapi jadi apa dia situ. Orang murtad itu karena banyak fakor. Bisa karena ekonomi atau budaya. Apa semata karena miskin? Tidak selalu. Di sejumlah daerah di Riau yang sawitnya booming, masjid justru tambah sepi. Masjid memang besar-besar sekarang, tapi sepi. Apalagi sekarang banyak televisi kabel sehingga anak-anak tak lagi mengaji. Dakwah itu harus ada sistemnya, harus simultan. Sehingga kita juga bisa mengkayakan hati umat. Jadi jangan asal dakwah. Insya Allah, jika demikian umat akan terjaga. Saat ini masih banyak umat Islam yang belum didakwah dan orang yang menjaga umat juga sudah minim,’’ bebernya.***

Lihat profil user

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas  Message [Halaman 1 dari 1]

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik